Kamis, 23 April 2009

Dua Petani Terseret Lahar Dingin Semeru

Sabtu, 04/04/2009 17:10 WIB
Dua Petani Terseret Lahar Dingin Semeru
Harri Purwanto - detikSurabaya



Lumajang - Gunung Semeru kembali memuntahkan lahar dingin setelah hujan deras mendera puncak Mahameru. Akibat lahar yang mengalir di Sungai Rejali, dua orang warga Desa Selok, Kecamatan Pasirian terseret aliran lahar.

Beruntung, nyawa kedua warga bernama Juanan (40) dan Wagina (47) yang menerobos dengan menggunakan sepeda motor masih bisa selamat, meski terseret sejauh 200 meter, pukul 14.30 WIB, Sabtu (4/4/2009).

Dari informasi yang dihimpun, kedua warga tersebut terseret bajir lahar dingin saat pulang dari sawah. Namun, ketika melintas di tengah Sungai Rejali, tiba-tiba arus sungai menjadi deras. Korban masih bisa selamat karena sempat berpegangan pada batu yang ada di sungai itu.

Meski selamat, namun tubuh kedua warga itu mengalami luka karena benturan batu. Sedangkan motor korban rusak parah karena tertimbun material padat yang dibawa lahar dingin.

Menurut penuturan Samsul, suami Juanan, keduanya terpaksa melintas di sungai karena itu merupakan jalan satu-satunya akses dari desa menuju sawah. Selain itu, kenekatan kedua korban itu juga akibat tidak adanya jembatan di lokasi kejadian.

"Warga sudah biasa melintas di sungai Rejali untuk ke sawah. Tapi kalau ada lahar dingin warga tidak berani untuk melintas," jelas Samsul.

Untuk menghindari banyak jatuh korban akibat terseret banjir lahar Gunung Semeru, Samsul berharap Pemerintah Daerah Lumajang segera membuatkan jembatan. "Kalau tidak dibangun jembatan akan banyak korban terseret lahar dingin Semeru," ujar Samsul.

(bdh/bdh)

Kamera Wartawan TVOne Dirusak Oknum Guru

Senin, 06/04/2009 17:49 WIB
Kamera Wartawan TVOne Dirusak Oknum Guru
Harry Purwanto - detikSurabaya

Lumajang - Aksi pelecehan profesi wartawan terjadi di Lumajang. Salah satu Guru Fisika SMP Negeri 3 Lumajang Paid Harianto merusak kamera wartawan TVOne, Senin (6/4/2009). Akibatnya kamera tersebut rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Kasus pelecehan ini langsung dilaporkan ke Mapolres Lumajang.

Kejadian berawal saat beberapa wartawan media cetak, online dan elektronik mengkonfirmasi dugaan praktek bagi-bagi uang salah satu calon DPD Jawa Timur ke dewan guru di sekolah tersebut. Wartawan pun ditemui Kepala Sekolah, Dra Budi Rahayu dan Suli Rahmanto Humas SMP 3 Lumajang.

Namun saat wartawan asyik ngobrol dengan kepala sekolah dan humas, tiba-tiba datang oknum guru bernama Paid Harianto dan langsung memaki-maki semua wartawan. Mendapat semprotan kata-kata kasar dan pelecehan, terjadilah keteganggan adu mulut. Iwan Sugiarto eorang wartawan TVOne mengambil kamera dan mengambil gambar peristiwa kasar oknum guru tersebut.

Keteganagan makin panas, saat oknum guru tersebut merusak kamera wartawan tv tersebut. Tak sampai di situ, oknum guru yang mengaku orang suku Madura menantang wartawan untuk berkelahi. Namun sejumlah wartawan tidak meladeni guru yang emosional tanpa sebab itu.

Iwan Sugiarto yang kecewa dengan tindakan oknum guru langsung melapor ke Mapolres Lumajang bersama sejumlah wartawan harian. Menurut Iwan, saat kejadian dia sempat merekam kejadin kasar guru tersebut. "Kamera saya dipegang dan merusak sreen videonay serta baterai," kata Iwan kepada penyidik di Mapolres Lumajang.

Humas SMP 3 Lumajang Suli Rahmanto menyayangkan insiden yang dilakukan salah satu guru di sekolahnya tersebut. Namun dia mengira guru yang bersangkutan sedang emosi karena terpojok dalam pelaku aksi dukung mendukung pada salah satu calon DPD Jawa Timur dari PGRI itu.

"Dia memang kasar dan sering emosi mas," kata Suli saat dikonfimasi wartawan.

(fat/fat)

Oknum Guru Perusak Kamera Wartawan Terancam Dipecat

Selasa, 07/04/2009 13:26 WIB
Oknum Guru Perusak Kamera Wartawan Terancam Dipecat
Harry Purwanto - detikSurabaya

Lumajang - Buntut aksi pelecehan profesi wartawan di Lumajang oleh salah satu Guru Fisika SMP Negeri 3 Lumajang Paid Harianto merusak, Senin kemarin terancam dipecat.

Dinas Pendidikan Nasional Lumajang berencana akan memanggil guru yang bersangkutan. Karena dianggap mencoreng institusi pendidikan dan profesi guru sebagi pendidikan.

"Kami akan panggil guru tersebut untuk diproses secara administratif. Jika terbukti lakukan perusakan kamera wartawan dan mengarah tindak kriminalitas kami akan pecat," kata Kepala Dinas Pendidikan Nasional Lumajang Drs Win Hatno kepada wartawan ditemui di kantornya kawasan Wonorejo Terpadu, Selasa (7/4/2009).

Menurut Win Hatno, wartawan yang datang harus diterima dengan baik untuk memperoleh berita saat dikonfirmasi, bukan perlakuan kasar. Jadi seorang guru harus tahu mana wartawan yang benar-benar mencari informasi atau yang hanya mencari-cari masalah.

"Pokoknya kami proses karena sudah masuk di kepolisian," jelas Win Hatno.

Semenatara Kasat Reskrim Polres Lumajang AKP Kusmindar mengatakan pihaknya secepatnya memanggil pelapor, terlapor dan saksi-saksi peristiwa perusakan kamera milik wartawan TVOne. Bahkan Polisi sudah melakukan oleh TKP di SMPN Negeri 3 Lumajang untuk mengumpulkan bukti-bukti itu.

"Sesuai barang bukti sementara, oknum guru tersebut memang memaki-maki wartawan bahkan mengajak berkelahi, tapi kita selidiki dulu lah," tutur Kusmindar ditemui di Mapolres Lumajang Jalan Alun-Alun Utara Kota Lumajang.(fat/fat)

Diduga Bagi-bagi Uang, Caleg PKB Dipolisikan Panwaslu

Selasa, 07/04/2009 16:58 WIB
Pemilu Legislatif
Diduga Bagi-bagi Uang, Caleg PKB Dipolisikan Panwaslu
Harry Purwanto - detikSurabaya

Lumajang - Panwaslu Kabupaten Lumajang melaporkan 3 calon anggota legislatif dari PKB ke polisi, Selasa (7/4/2009). Pasalnya mereka diduga melanggar ketentuan saat hari tenang Pemilu 2009, membagi-bagikan uang ke konstituennya di Kecamatan Ranuyoso.

5 Anggota panwaslu dan panwascam itu mendatangi Polres Lumajang Jalan Alun-Alun Utara Lumajang lengkap dengan barang bukti. Mereka diterima di Kantor Gakkumdu (Penegak Hukum Terpadu) Pemilu 2009 di Kantor Satreskrim Polres Lumajang.

Berdasarkan laporan dari Panwascam Ranuyoso, calon anggota legislatif DRPD Kabupeten Lumajang Mahfud Nasir terlibat money politik dengan membagi-bagikan uang Rp 25 ribu kepada 35 simpatisannya di dalam mushola milik ustad Sodik di Desa Jenggrong Kecamatan Ranuyoso.

"Saat melakukan kampanye caleg dari PKB tersebut, mereka menggunakan mobil dinas. Sebab yang bersangkutan ketua komisi B DPRD Kabupeten Lumajang," kata Almasdui Anggota Panwaslu Kabupaten Lumajang di Mapolres.

Setelah membagikan uang, caleg nomor urut 4 Dapil II Kabupaten Lumajang, mereka kemudian pindah tempat ke Desa Mlinjo. Di sana sang caleg juga membagikan kerudung dan uang di dalam masjid desa setempat.

"Padahal dalam aturannya berkampanye di dalam masjid tidak diperkenankan," tutur Almasudi.

Sedangakan dua caleg lainnya yang melakukan pelanggran, Mansur Maksum dan Nur Yasin. Mereka caleg PKB DPR RI Pusat Dapil IV Lumajang-Jember dengan melakukan kampaye di luar jadwal di Desa Meninjo Kecamaatn Ranuyoso.

"Kami sudah memintai surat pernyataan saksi dan mengumpulkan barang bukti. Tinggal bagaimana pihak kepolisian untuk mengusutnya," jelasnya.

Sementara beberapa barang bukti yang sempat dibawa ke Mapolres Lumajang diantaranya sejumlah uang, kaos, stiker dan kartu suara.

"Kasus ini dalam kajian Gakkumdu Polres lumajang, Jika cukup bukti kasus ini bisa di meja hijaukan," Kata Kasat Reskrim Polres Lumajang AKP Kusmindar usai menerima laporan Panwaslu dugaan money politik oleh caleg.
(fat/fat)

Ratusan Pasien di RS Lumajang Tak Nyontreng

Kamis, 09/04/2009 18:13 WIB
Pemilu Legislatif
Ratusan Pasien di RS Lumajang Tak Nyontreng
Harry Purwanto - detikSurabaya



Lumajang - Tak ada TPS khusus di rumah sakit Kabupaten Lumajang, ratusan pasien dan keluarganya gagal menggunakan hak pilihnya. Merekapun kehilangan hak suaranya alias Golput.

Seperti di RS Dr Haryoto Lumajang, sekitar 300 pasien dan keluarganya tidak melakukan pencontrengan karena tidak memiliki form A-5. Kondisi itu diperparah terlambatnya petugas KPPS terdekat di rumah sakit.

"Rata-rata pasien dan keluarganya tidak menggunakan hak pilih. Sebenarnya mereka banyak yang kepingin," kata Sekretaris RS Dr Haryoto Lumajang, Noviana saat ditemui di kantornya Jalan Panglima Sudirman, Kamis (9/4/2009).

Menurut Noviana, pemilu 2009 ini sungguh amburadul. Banyak pasien yang tidak bisa menggunakan hak pilihnya, apalagi petugas medis yang merawat pasien.

"Rata-rata di sini setiap pilkada dan pemilu, pemilih lebih dari 300 orang," tutur Noviana mantan Ketua KPPS Khusus di RS Dr Haryoto.

Sedangkan di RS Wijaya Kusuma Jalan Ahmad Yani, sebanyak 150 pasien terpaksa tak bisa menggunakan hak pilih, meski mengantongi form A-5. Hal itu karena petugas KPPS di TPS terdekat tidak datang ke RS.

"Ya beginilah kalau tidak ada TPS khusus, akeh seng gak milih (Banyak yang tidak pilih)," kata Sukri, salah satu keluarga pasien di RS Wijaya Kusuma yang sehari sebelumnya mengurus Form A-5 agar bisa memilih.

Sementara anggota Panwaslu Kabupaten Lumajang Divisi Pelaporan dan Penyelesaian Konflik ALmasdui mengatakan pihaknya telah mendapat laporan terkait banyaknya pasien di rumah sakit yang tidak menggunakan hak pilihnya.

"Kami akan tindak lanjuti laporan itu dan rekomendasikan ke KPU," tegas Almasudi singkat.(fat/fat)

Lihat Gus Ipul Sidak, Istri Sekdes Kecemplung Septic Tank

Kamis, 09/04/2009 14:15 WIB
Lihat Gus Ipul Sidak, Istri Sekdes Kecemplung Septic Tank
Harry Purwanto - detikSurabaya



Lumajang
- Sungguh malang nasib Kanthi (45), istri Nursam Sekretaris Desa (Sekdes) Grobogan, Kecamatan Kedungjajang, Lumajang. Gara-gara ingin melihat wakil Gubernur Jatim sidak di TPS 07, dia kecebur ke septic tank.

Peristiwa naas yang menimpa istri sekdes itu akibat berdesak-desak dengan warga lainnya untuk melihat Gus Ipul panggilan akrab Saifullah Yusuf bersama Bupati Lumajang Sahrojat Masdar yang melakukan sidak TPS di Desa Grobogan.

Akibat insiden itu, Gus Ipul yang akan meninggalkan TPS akhirnya mengurungkan diri untuk mengetahui kondisi korban yang jatuh ke tempat pembuangan limbah manusia tersebut. Bahkan Gus Ipul memerintahkan Satpol PP untuk segera menolongnya.

"Ayo-ayo cepat tolong orang itu yang jatuh ke septic tank," ujar Gus Ipul pada sejumlah Satpol PP Pemkab LUmajang yang berada di dekat lokasi kejadian, Kamis (9/4/2009).

Setelah beberapa lama, korban akhirnya berhasil ditolong warga dengan dibantu Satpol PP Pemkab Lumajang. Korban dievakuasi dari lubang berkedalaman 3 meter dengan menggunakan tangga bambu. Beruntung, korban hanya mengalami luka lecet pada bagian kepala dan tubuh.

"Alhadulillah ibunya selamat, apa ada korban lainnya?" tanya Gus Ipul pada warga.(bdh/bdh)

Terlibat Perampokan, Pimred Tabloid Mingguan Dibekuk

Senin, 13/04/2009 12:21 WIB
Terlibat Perampokan, Pimred Tabloid Mingguan Dibekuk
Harry Purwanto - detikSurabaya

Lumajang - Aksi perampokan yang terjadi sejak 3 bulan terakhir di beberapa lembaga pendidikan di Lumajang berhasil dibongkar jajaran Polres Lumajang.

Polisi berhasil membekuk Agus Mudjiono (36) Pimpinan Redaksi Media Mingguan "Patroli Hallo Indonesia News" yang beralamat di Jalan Pagelaran Kademangan–Malang. Selain itu polisi juga mengamankan satu pelaku lainnya bernama Abdul Karim (34) warga Desa/Kecamatan Sumbersuko.

Pelaku ditangkap di rumahnya Desa/Kecamatan Kunir tepat di depan Mapolsek Kunir, Senin (13/4/2009) karena diduga terlibat rangkaian aksi perampokan di sejumlah lembaga pendidikan di Kecamatan Kunir, Tempeh dan Sumbersuko.

Polisi menangkap pelaku setelah melakukan penyidikan dan pengintaian terkait banyaknya komputer yang keluar masuk di rumah pelaku.

"Dia mengakui kalau belasan komputer yang dibeli di rumahnya hasil curian rekan-rekannya," kata Kasat Reskrim Polres Lumajang AKP Kusmindar kepada wartawan di kantornya.

Menurut dia, selain komputer polisi juga mengamankan 2 buah sepeda motor dan 5 buah televisi hasil curian. Satu unit komputer oleh tersangka dibeli seharga Rp 500 ribu.

"Pelaku melakukan perampokan di 15 TKP Wilayah Lumajang," ungkap Kusmindar.

Kini kedua pelaku ditahan di Mapolres Lumajang untuk pengembangan lebih lanjut. Sebab 3 kawanan perampok lainnya masih belum tertangkap dan dalam pengejaran polisi.
(fat/fat)

Gedung SD Disegel Warga, Pelajar Jadi Korban

Senin, 20/04/2009 18:18 WIB
Gedung SD Disegel Warga, Pelajar Jadi Korban
Harry Purwanto - detikSurabaya

Lumajang - Bangunan Sekolah Dasar Bandaran 1 Kecamatan Kedungjajang Lumajang disegel. Bukan oleh pengadilan, melainkan oleh warga yang mengaku sebagai pemilik tanah yang ditempati bangunan sekolah tersebut.

Akibatnya tindakan itu menyebabkan para siswa menjadi korban. Mereka keleleran dan terpaksa melaksanakan proses belajar mengajar di balai dusun dan rumah warga sekitar.

Informasi yang dihimpun detiksurabaya.com, ratusan siswa SD Bandaran sudah dua hari keleleran di depan sekolah mereka. Sebab sekolah tempat mereka belajar sejak pagi disegel oleh pemilik tanah, Surami (45) warga Desa Bandaran Kecamatan Kedung Jajang.

Untuk mengantisipasi agar para murid tidak keleleran, para guru akhirnya melaksanakan proses belajar mengajar di balai dusun dan rumah warga meski sangat tak layak untuk proses belajar mengajar.

Menurut Surami, dirinya terpaksa melakukan penyegelan karena pihak dinas pendidikan tidak memenuhi kompensasi yang telah dijanjikan. Bahkan tanah desa sebagai penganti tidak dibolehkan oleh kepala desa untuk ditempati.

"Saya kesal mas, dengan janji pemerintah dan dinas pendidikan," kata Surmi pada detiksuarabaya.com di di SDN 1 Bandaran, Senin (20/4/2009).

Menurutnya, pada masa orde baru tanah tersebut dicapolok pemerintah sebagai program Inpres. Namun pada masa reformasi, para pemilik tanah meminta kembali tanah tersebut kepada pemerintah.

"Karena terlanjur ditempati sekolah, waktu itu pihak dinas pendididkan menjanjikan akan memberikan, tapi kompensasi hingga sekarang tidak ada sama sekali," ungkap Surami

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Lumajang Win Hatno mengatakan tidak pernah ada perjanjian untuk memberikan Konpensasi. Bahkan untuk melakukan penyelesaia sengketam, pihaknya telah menurunkan tim dari BPN (Badan Pertanahan Nasional) untuk mengecek asal muasal dari tanah tersebut.

"Hasilnya itu tanah milik negara," kata Win Hatno saat dihubungi.

(gik/gik)